Al-Khairiyah adalah Jalan dan Rumah

 

Guru seperti Akar yang Tidak Akan Terlihat

Miris ketika kita tak kenal sosok orang yang telah dengan penuh keikhlasan mendidik, bahkan kadang tidak tahu nama gurunya, bertemu di jalanpun seolah tak pernah mengenalnya. Lebih miris lagi ketika gurunya berniat memperbaiki ternyata justru seakan-akan menjadi orang yang sangat dibencinya. Padahal, jelas sekali bahwa setiap pendidik akan dimintai pertanggungjawaban nya di akhirat nanti, karena setiap anak adalah amanah dan itu tidak mudah. Segala ekspresi yang tampak itu adalah bagian dari perjuangannya agar semua anak menjadi anak yang shalih Shalihah dan mendapat ilmu yang manfaat barokah. Guru seperti akar yang tidak akan terlihat walau pohonnya menjulang tinggi, dedaunan indah dan buah yang segar. Semua mata akan melihat keindahan yang tampak bukan kepada akar yang berjuang keras tak terlihat. Jadi, kita semua adalah murid dari siapapun yang mengajari kita walau hanya satu huruf.

Habib Abdullah Al Haddad mengatakan: Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah Ridha kembali. (Adaab Suluk Al Murid:54).

Melihat berbagai ekspresi mereka saat ujian, ada yang tertawa bahagia, ketakutan, takut lupa dengan hafalannya, sungguh menyenangkan membersamai mereka. Masya Allah nak, terima kasih sudah mengisi warna kehidupan kami. Segala hal yang kami lakukan adalah demi kebaikan dan kebermanfaatan kalian. Percayalah, tak pernah ada kesal yang tak berasalan. Segala kekesalan yang tampak saat kalian mulai meredup adalah salah satu penyesalan kami yang kami sadari itu bagian dari kegagalan kecil. Namun, kami percaya bahwa kalian adalah insan-insan juara penerus perubahan dan perbaikan. Nak, nutrisi tubuh memang sangat penting untuk melaksanakan setiap aktivitas harian, namun ada yang tak kala pentingnya adalah nutrisi hati, pikiran dan bathiniyah untuk keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Ali RA mencontohkan, sekecil apapun ilmu yang didapat dari seorang guru tak boleh diremehkan. Imam Syafi'i pernah membuat rekannya terkagum-kagun karena tiba-tiba ia mencium tangan dan memeluk seorang lelaki tua. Para sahabat bertanya-tanya, "Mengapa seorang imam besar mencium tangan seorang laki-laki tua? padahal masih banyak ulama yang lebih pantas dicium tangannya daripada dia?" Imam Syafi'i menjawab, "Dulu aku pernah bertanya padanya, bagaimana mengetahui se ekor anjing yang telah mencapai usia baligh? laki-laki tua itu menjawab, "Jika kamu melihat anjing itu kencing dengan mengangkat sebelah kakinya, maka ia telah baligh."

        Hanya ilmu itu yang didapat Imam Syafi'i dari orang tua itu. Namun, sang Imam tak pernah lupa akan secuil ilmu yang ia dapatkan. Baginya orang tua itu adalah guru yang patut dihormati. Sikap sedemikian pulalah yang menjadi salah satu faktor yang menghantarkan seorang Syafi'i menjadi imam besar.

Tulisan Hamba Allah: Membeli Keringat Guru

Dalam sebuah diskusi, seorang murid bertanya kepada gurunya,

Murid : "Jika memang benar para guru adalah orang-orang yang pintar, mengapa bukan para guru yang menjadi pemimpin dunia, pengusaha sukses, dan orang-orang kaya raya itu?.

Gurunya tersenyum, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia masuk ke ruangan nya, dan keluar kembali dengan membawa sebuah timbangan. Ia meletakkan timbangan tersebut diatas meja, dan  berkata : " Anakku, ini adalah sebuah timbangan, yang biasa digunakan untuk mengukur berat emas dengan kapasitas hingga 5000 gram". "Berapa harga emas seberat itu?". Murid mengernyitkan keningnya, menghitung dengan kalkulator dan kemudian ia mejawab,"Jika harga satu gram emas adalah 800 ribu rupiah, maka 5000 gram akan setara dengan 4 milyard rupiah,".

Guru : "Baik lah anakku, sekarang coba bayangkan seandainya ada seseorang yang datang kepadamu membawa timbangan ini dan ingin menjualnya seharga emas 5000 gram, adakah yang bersedia membelinya?".

Murid berkata : "Timbangan emas tidak lebih berharga dari emasnya, saya bisa mendapatkan timbangan tersebut dengan harga dibawah dua juta rupiah, mengapa harus membayar sampai 4 milyar?".

Guru menjawab : "Nah, anakku, kini kau sudah mendapatkan pelajaran, bahwa kalian para murid, adalah seperti emas, dan kami adalah timbangan akan bobot prestasimu, kalianlah yang seharusnya menjadi perhiasan dunia ini, dan biarkan kami tetap menjadi timbangan yang akurat dan presisi untuk mengukur kadar kemajuanmu",

Guru berkata lagi, "Satu lagi pertanyaanku. Jika ada seseorang datang kepadamu membawa sebongkah berlian ditangan kanannya dan seember keringat di tangan kirinya, kemudian ia berkata : "Ditangan kiriku ada keringat yang telah aku keluarkan untuk menemukan sebongkah berlian yang ada ditangan kananku ini, tanpa keringat ini tidak akan ada berlian, maka belilah keringat ini dengan harga yang sama dengan harga berlian".

"Apakah ada yang mau membeli keringatnya? ".

"Tentu tidak." Ujar guru lagi.

"Orang hanya akan membeli berliannya dan mengabaikan keringatnya. Biarlah kami, para guru, menjadi keringat itu, dan kalianlah yang menjadi berliannya".

Sang murid menangis, ia memeluk gurunya dan berkata : "Wahai guru, betapa mulia hati kalian, dan betapa ikhlasnya kalian, terima kasih guru. Kami tidak akan bisa melupakan kalian, karena dalam setiap kemajuan kami, setiap kilau berlian kami, ada tetes keringatmu".

Guru berkata : "Biarlah keringat itu menguap, mengangkasa menuju alam hakiki di sisi Ilahi Rabbi, karena hakikat akhirat lebih mulia dari segala pernak-pernik di dunia ini."

Barokah Bergandengan dengan Akhlaq

Ilmu bergandengan dengan akhlaq, barokah tidak hanya terletak pada banyaknya ilmu atau kecerdasan intelektual saja apalagi rentetan angka. Tapi lebih kepada pengamalan dan adab yang baik. Paham diri sebagai seorang hamba, seorang umat, seorang anak, dan lain sebagainya bagaimana seharusnya bersikap. Jika dalam mencari ilmu orientasinya hanya pada yang penting dapat nilai, yang penting absen, yang penting dapat ijazah, maka yang didapat hanya sebatas itu saja. Tapi jika niatnya Lillahi Ta'ala, untuk sebuah kebermanfaatan dan juga bukan sekedar teori tapi pengamalan dan yang tak kala pentingnya adalah keberkahan maka yang didapat insya Allah ilmu yang manfaat barokah. Ilmu bergandengan dengan akhlaq, barokah tidak hanya terletak pada banyaknya ilmu atau kecerdasan intelektual saja apalagi rentetan angka. Tapi lebih kepada pengamalan dan adab yang baik. Paham diri sebagai seorang hamba, seorang umat, seorang anak, dan lain sebagainya bagaimana seharusnya bersikap. Jika dalam mencari ilmu orientasinya hanya pada yang penting dapat nilai, yang penting absen, yang penting dapat ijazah, maka yang didapat hanya sebatas itu saja. Tapi jika niatnya Lillahi Ta'ala, untuk sebuah kebermanfaatan dan juga bukan sekedar teori tapi pengamalan dan yang tak kala pentingnya adalah keberkahan maka yang didapat insya Allah ilmu yang manfaat barokah.

Tentang Sebuah Perjuangan

Dalam hidup kadang kita lelah, luka, lupa bahkan patah tapi tak apa itu bagian dari sejarah dan kodrat manusia, yang terpenting segera bangkit dan berubah menjadi lebih baik. Istiqomah menuang manfaat. Terus berjuang wahai para pelita bangsa. Kita tak pernah tahu amalan mana yang akan mengantarkan kita ke SurgaNya yang menjadikan Allah ridho. Bisa saja senyum manis dari mereka yang kita perjuangkan atau uluran tangan yang membuat mereka bangkit kembali dari keterpurukan. Sungguh, hidup itu indah jika kita menjadikan segala aktivitas bermakna.

Perjuangan tanpa air mata, luka, bahkan patah itu tak sempurna. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari sebuah tantangan walau tertatih bahkan jatuh, bukankah nahkoda handal tidak berlayar pada lautan tenang, analogi sebuah perjuangan. Jadi nikmati proses perjuanganmu dan amanah menjalankan TakdirNya, maka ketentraman akan menyertai. Untuk yang sedang berjuang apapun itu, semoga kita selalu kuat lahir batin menuju keindahan dan keabadian.

Amanat Sosok Kasudin JU 2 yang Sangat Bijaksana

Mengajar bukan hanya focus untuk output. Mengajar bukan hanya transfer pengetahuan tapi lebih kepada menyuguhkan pengalaman yang bermakna. Cerdas bukan berarti berprestasi, tapi manfaat dan dapat mengaplikasikan keilmuan adalah bentuk prestasi nyata. Amanat beliau diakhir sambutannya (Kasudin JU 2 asal Sumenep Madura): bapak ibu, saya titip anak-anak. Allahu, seketika menetes dan menusuk, tertampar rasanya. Mereka adalah titipan yang harus kita jaga sebaik mungkin, mereka adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Semoga Allah memampukan kita semua. Bapak luar biasa dan sangat bijaksana. Salam ta'dzhim dan santun untuk bapak, kita satu tanah kelahiran.

Anak adalah Peniru yang Ulung

Anak adalah peniru yang ulung, perekam yang handal, pendengar yang baik dan penatap yang tajam untuk setiap kejadian di sekitarnya, terlebih yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Ketika anak beranjak remaja kemudian dia melakukan suatu hal maka tanyalah pada diri kita, pengalaman apa yang telah kita berikan dan ajarkan kepadanya saat ia masih menjadi sosok mungil dan perekam hebat. Kita tak bisa memilih lahir dari rahim siapa, namun kita bisa mengusahakan karakter anak seperti apa. Anak merupakan investasi dunia akhirat yang bisa kita tanam sejak mulai menentukan pilihan dengan siapa kita akan bersama.

Pentingnya menyiapkan generasi unggul yang memahami agama sebagai cara menghindari api neraka. Khususnya teruntuk calon ibu juga calon pemimpin. Hakikatnya mendidik anak dimulai dari memilih dengan siapa kita akan berlabuh walau pada akhirnya takdir yang menentukan, tapi setidaknya kita punya wilayah usaha dan do'a.

Salah satu alasan mengapa dalam hal mendidik dan memberikan pengalaman terbaik adalah orang tua, karakter anak juga terbentuk dari gabungan dua karakter orang tua. Dan karakter anak juga dimulai saat kita memilih sebuah nama yang dimohonkan kepadaNya untuk menjadi jodoh terbaik.

Nak, semoga kalian tumbuh menjadi perempuan-perempuan shalihah yang bermanfaat dan pantas dijadikan panutan. Walaupun perempuan tak bisa menjadi imam, namun perempuan bisa melahirkan seorang imam sebagaimana imam Syafi'i yang lahir dari seorang ibu Shalihah. Untuk kalian laki-laki, semoga nantinya bisa menjadi imam yang Shalih di manapun dan kapanpun, me jadi uswah untuk keluarga dan semuanya. Dan semoga kalian semua menjadi hafidz-hafidzah yang tidak hanya hafal tapi mampu mengamalkan

Learning Modalities

Seorang guru yang cerdas dan bijak mampu mengenali model belajar anak, seperti Visual, Auditory (gunakan telinga kanan sebagai pusat bahasa), Kinesthetic (action-theory)

Jika kita mengenali model belajar anak maka tak ada lagi kerutan kening saat kita mengajar dan mendapat berbagai macam respon yang berbeda dari mereka.

Menjadi pintar itu mudah, namun mencetak generasi kreatif dan kritis yang bijak itu butuh usaha lebih. Lelah bahkan marah itu manusiawi tapi bisa mengolah ego dan emosi itu luar biasa. Mari menjadi guru bahagia, mendidik dengan hati.

Al-Khairiyah adalah Jalan dan Rumah

Al-Khairiyah bukan sebatas tempat mengabdi, namun juga tempat kami belajar dan tumbuh menjadi insan-insan yang tidak hanya idealis, bukan hanya sebatas transfer ilmu dan tidak hanya meningkatkan hablumminallah namun juga menyeimbangkan hablumminannas. Terima kasih untuk segala do'a dan suport serta yang paling utama adalah kepercayaan.

Lembaga yang sukses adalah yang mempunyai tujuan yang sama, walau banyak hati juga berbagai macam pikiran namun menjadi satu untuk sebuah keberhasilan dan cita-cita mulia. Perbedadaan adalah niscaya, namun bukankah pelangi indah karena perbedaan yang menyatu kemudian menyempurnakan. Al-Khairiyah adalah satu tubuh, satu pengabdian dan satu saksi ketika sudah kembali kepadaNya. Letak bertanggungjawab bukan sebatas pada kemampuan saja, namun juga kepada kemauan dan semangat juang, jika ada kemauan yang kuat, segala usaha dan do'a akan terus Istiqomah diperjuangkan, termasuk mengabdi di Al-Khairiyah.

Belajar itu tidak ada batas waktu, tempat dan keadaan. Kalau kata bunda haji Kepsek SMP Al-Khairiyah 2 *Hidup itu indah jika kita berlari, berani mengambil tantangan bukan hanya jalan di tempat yang hanya capek dan tidak sampai tujuan terlebih lagi monoton*. So, ciptakan hal baru yang bermanfaat. Di suatu waktu kita perlu berbeda untuk hal yang lebih baik.

Bunda Nina said Bermimpi itu setinggi langit agar ketika jatuh setidaknya jatuh ke bintang gemintang, jika bermimpi setinggi pohon, maka ketika jatuh langsung ke tanah. Jangan takut bermimpi, semakin tinggi mimpi, semakin tinggi dan kuat pula semangat juang untuk meraihnya. Raih mimpi dengan usaha dan do'a. Bermimpilah, maka Allah akan memeluk mimpi kita dan mengabulkannya dengan sangat indah juga menakjubkan, insya Allah.

Dalam menggapai cita-cita tentu butuh perjuangan dan do'a termasuk mereka jadi Guru hebat dan berkualitas. Dalam perjuangan juga tak jarang ada kerikil tajam yang menghadang bahkan  melukai, itulah bagian dari keindahan perjuangan dan menjadi saksi bahwa kita serius dalam bermimpi dan memohon kepadaNya agar mimpi itu nyata. Terus melangkah walau tertatih, terus berlari walau perih dan terus meyakini hati akan keindahan karunia Ilahi. Salam sehat, semangat, sukses, berkah dan bahagia untuk kita semua para pejuang pendidikan, tetaplah menjadi jadi pelita untuk Anak bangsa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini